Skip to main content

Penyadari Kapasitas !

Sumber Foto: HotSpot Media/David Lazar
Oleh:
Ida Bagus Gde Yudha Triguna.
Universitas Hindu Indonesia,
(Gersik, Jawa Timur 2012).

Dharmasanti Provinsi Jawa Timur tahun 2012 [Icaka 1934] menghadirkan Gubernur Jawa Timur  diwakili oleh Wakil Gubernur, bapak Saifullah Jusuf yang juga dikenal dengan panggilan Gus Ipul. Saya hadir sebagai Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia. Pada kesempatan itu, Gus Ipul mengeluarkan cerita yang kemudian menjadi inspirasi saya dalam memberi dharmawacana di beberapa kesempatan lain. Cerita Gus Ipul adalah sebagai berikut.

“Kisah seorang nelayan yg amat miskin hidup dengan empat anak dan seorang istri. Dia hanya memiliki kail dan pancing sebagai modal bekerja di laut untuk menghidupi keluarganya. Suatu hari si nelayan sebagaimana biasa ia pergi ke laut untuk mencari ikan. Hingga menjelang sore, satu ekor ikanpun ia tidak dapatkan. Menjelang mahgrib kail yang dipegangnyapun lepas dari genggamannya. Iapun termenung dan sambil berdoa dan ia memohon:."Ya Tuhan tolongla hamba, agar kail yang aku miliki aku dapatkan kembali. Hanya itulah satu-satunya alat yang aku milikiuntukmenghidupianak-anakdanistriku.Apa yang akan terjadi pada keluargaku, jika kailku itu tidak aku dapatkan kembali". Bantulah aku ya Tuhan sambil memohon.

Tuhan amat hiba dengan ketulusan doa dan harapan si Nalayan. Tuhan kemudian mengutus malaikat untuk mengambil kail si nelayan di dasar laut. Malaikat pun mengambil kail yang ada di dasar laut....dan dibawalah kail yang terbuat dari emas dan bertahtakan berlian. Nelayan...apakah ini kailmu? Kata Malaikat. Nelayan dengan sepontan menjawab....bukan malaikat. Kailku amat jelek, hanya terbuat dari kayu sederhana yang aku buat sendiri. Oh kalau begitu...pegang dulu kail ini..aku akan mencoba mengambil kailmu. Malaikatpun menyelam kembali...dan tidak lama kemudian ia membawa kembali kail lain yang terbuat dari perak dan dihiasi emas. Sambil memegang kail malaikat bertanya kepada si nelayan miskin. "Apakah ini kail milikmu nelayan"? Dengan spontan si nelayan menyatakan bukan malaikat, kailaku jauh lebih jelek dari yang engkau bawa. Setelah itu, malaikat kembali menyelam dan kemudian membawa kail yang hanya terbuat dari kayu...amat sederhana. Malaikat kembali bertanya apakah ini kailmu? Si nelayan menjawab..benar malaikat..inilah kailku. Baik kalau begitu  karena engkau jujur dan tidak tergoda oleh berlian, emas, dan perak...maka ambilkan ketiga kail yang sudah kamu pegang.

Sesampainya di rumah, nelayan disambut dengan sukacita oleh istrinya. Dengan antusias istri nelayan bertanya "dimana bapak dapatkan kail yang terbuat dari emas seperti ini ? Lalu diceritakanlah kronologisnya bahwa semua itu pemberian Tuhan.... melalui proses ujian.

Esok harinya, ketika si nelayan hendak berangkat ke laut, tiba-tiba istrinya meminta agar diijinkan ikut melaut. Nelayan berkata, “bu tinggal saja di rumah seperti biasa, menjaga anak-anak, menyiapkan makanan untuk anak-anak dan bapak, serta mengerjakan hal-hal yang dapat dikerjakan” sesuai swadharmamu sebagai ibu rumah tangga. Namun, nasehat si nelayan tidak diindahkan, dan si istri tetap memaksa untuk ikut.

Sesampainya di laut, si istri mencoba melempar kail, namun malang baginya, bukan kail yang terlempar, melainkan tubuh wanita itu terlempar ke laut tanpa sempat si nelayan memegangnya. Dengan perasaan sedih kemudian nelayan memanjatkan doa agar istrinya dapat dikembalikan dengan berdoa: ”Ya Tuhan tolonglah aku agar istriku dapat kembali. Hanya dia yang selama ini setia mendampingiku di saat-saat suka maupun duka. Kalau tidak kembali bagaimana dengan nasib anak-anakku ? Tuhan mendengar permohonan nelayan yang tulus itu, kemudian kembali mengutus malaikat untuk membantu nelayan. Malaikat menyelam dan mengangkat seorang wanita yang amat sintal dan sexi [Gus Ipul menyebut nama Artis yang sexi] sambil bertanya: nelayan apakah wanita ini istrimu ? Sambil melirik dan nafasnya naik-turun, nelayan menjawab: benar Malaikat, itulah istriku. 
Malaikat tahu bahwa kali ini si nelayan berbohong. Malaikat tahu bahwa wanita yang diangkat dari dalam laut itu bukan istrinya. Heran dengan perubahan sikap itu, Malaikat kemudian bertanya: wahai nelayan, mengapa kali ini kamu berbohong kepadaku. Dia bukan istrimu, kenapa kamu menyatakan itu istrimu ? Sambil terbata-bata nelayan menjawab: saya tidak berbohong Malaikat, saya hanya menghindari perlakuan yang sama tatkala saya pertama kali kehilangan kail. Saya takut, kalau saya menjawa tidak/bukan, Malaikat akan mengambil wanita kedua yang bisa jadi lebih seksi dari yang pertama, dan ketika saya menjawab itu bukan istri saya, Malaikat akan mengambil yang ketiga-istri saya yang sebenarnya.  Bagaimana mungkin saya diberikan tiga wanita sexi dengan kapasitas saya seperti ini, bagi saya “cukup satu wanita rasa tiga daripada tiga wanita rasa satu".

Ada beberapa hal yang dapat ditarik dari cerita jenaka gaya Gus Ipul tersebut di atas, yaitu bahwa sebagai manusia, kita diajarkan untuk menyadari kapasitas dan kemampuan diri. Ada kalanya kita merasa bisa dan mampun walaupun kapasitas kita tidak. Tetapi juga sering terjadi, walau kapasitas kita memenuhi, tetapi kita merasa tidak bisa dan tidak mampu. Menyadari kemampuan dan potensi diri menjadi penting dalam membuat diri kita menjadi manusia Hindu yang seimbang lahir batin, seimbang memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Menyeimbangkan antara kapasitas dan kemampuan otak dengan kehalusan buddi. Semoga cerita tadi memberi inspirasi bagi kita semua. Rahayu

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar