Skip to main content

Menuju Kemuliaan Hidup,

Oleh:
Ida Bagus Gde Yudha Triguna,
Universitas Hindu Indonesia,
(Pura Aditya Jaya Rawamangun, 2012).

Umat sedharma yang saya banggakan,
Hari ini kembali kita bertemu dalam acara yang sangat membahagiakan, acara yang penuh dengan keindahan, kedamaian, dan kesukacitaan. Banyak orang tidak bisa menikmati acara-acara yang membahagiakan seperti yang kita sedang nikmati. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa angayu bagia, karena berkat karunia Ida Sang Hyang Widhi semua ini bisa terjadi. Svaha.

Hadirin yang berbahagia,
Ketika Sang Dredhasyu, seorang pendeta muda yang telah sempurna kerohaniaannya bertanya kepada ayahandanya Bhagawan Agastya, perihal perbuatan baik yang memungkinkan manusia mencapai Surga serta perbuatan buruk yang menjerumuskan manusia menuju Neraka dan penderitaan. Anakku Dredhasyu, campanlah apa yang aku katakan agar engkau bisa mencapai kemuliaan hidup. “Ada tiga hal yang menyebabkan Surga dan Neraka anakku, yaitu perbuatan [ulah], kata-kata [sabda], dan pikiran [ambek]. Ketiganya memiliki nilai dan kualitas  yang  berbeda [nista, madya, dan utama]. Pahala kata-kata [sabda] lebih utama dari pada perbuatan [ulah], pahala pikiran [idep] lebih utama dari kata-kata [sabda]. Lebih lanjut Sang Dredhasyu memberi ilustrasi: “manusia yang karena perbuatannya menyebabkan orang lain menderita, tetapi karena perbuatannya itu tidak didasarkan pada kesadaran pikiran, dan juga tidak diikuti dengan kata-kata yang menyakitkan, maka hukumannya lebih ringan dibandingkan dengan perbuatan yang dilandasi oleh ujaran kata-kata menyakitkan dan kesadaran pikiran. Sebaliknya, suatu perbuatan sekalipun tidak mengakibatkan seseorang menderita, tetapi karena perbuatannya itu dilaksanakan atas dasar kesadaran pikiran, maka seberat dan seluas bumilah papa yang akan diterimanya”. Dengan demikian, pikiran [idep] menjadi sumber utama kata-kata dan perbuatan. Jika kita menginginkan mencapai kemuliaan hidup, menjadi manusia utama, dan berbahagia, maka jagalah kesadaran pikiranmu. Menjaga  pikiran, merupakan keutamaan manusia sejati. Oleh karena itu anakku jagalah pikiranmu, karena menjadi dasar perkataan dan perbuatanmu. Jagalah perbuatanmu karena itu akan menjadi kebiasaanmu. Jagalah kebiasaanmu karena akan menjadi karaktermu, dan semua itu akan menentukan nasibmu. Jadi, pikiran akan menentukan nasibmu”.

Hadirin umat sedharma yang berbahagia,
Sang Dredhasyu terkagum-kagum dengan petuah yang disampaikan Bhagawan Agastya, seraya mengucapkan terima kasih. Paduka Bhagawan, apakah masih ada jalan untuk mencapai kemuliaan hidup selain yang telah paduka Bhagawan telah sampaikan ? Baik Dredhasyu, selain tiga hal tadi, ada tiga macam perbuatan lainnya yang dapat menyebabkan Surga dan Neraka, yaitu tapa, yajna, dan kirtti. Tapa lebih utama daripada yajna, yajna lebih utama dari pada kirtti. Ketiganya dinamakan kebajikan dalam bentuk perbuatan [prawrttikadharman]. Adapun yoga adalah nirwrttikadharman

Anakku Dredasyu, pengetahuan seperti pengendalian indria [indriya nigraha], yaitu pengekangan dan pengendalian terhadap sepuluh indria merupakan jenis dan perbuatan tapa. Dengan demikian, tapa tidak semata-mata berarti duduk berdiam diri-semadi, melainkan tindakan sadar untuk mengendalikan emosi dan nafsu. Seseorang yang hendak melaksanakan tapa dalam kehidupannya, pertama-tama ia harus belajar mengendalikan emosinya agar dia mampu mengendalikan dengan stabil saat suka maupun duka. Ia yang melaksanakan tapa, selalu bersyukur tatkala dianugrahi jabatan, harta, dan kesenangan lainnya. Demikian pula sebaliknya, ia tidak akan larut dalam kesedihan manakala tertimpa nestapa. Mengapa kita tidak boleh bersuka ria tatkala menerima rejeki, diberi kesempatan menduduki jabatan tertentu dan kebahagiaan lainnya melebihi kapasitas manusia atau sebaliknya tidak boleh sedih berlarut-larut? Kesenangan yang berlebihan akan membuat fluktuasi emosi semakin tinggi dan semakin menjauh dari garis horizontal normal. Semakin tinggi kegembiraan, semakin jauh jaraknya dengan garis normal tadi. Akibatnya dapat membuat hempasan emosi semakin keras ketika ia terjatuh, apalagi tenggelam ke dalam garis normal. Secara simbolis, kematian raksasa Niwatakwaca disebabkan karena senang berlebihan, tertawa terbahak-bahak melebihi kapasitas yang dimiliki. Andai kata raksasa Niwatakwaca pernah membaca Sarasamuccaya khususnya sloka 306 tentu ia tidak akan tertawa terbahak-bahak yang menjadi awal datangnya ajalnya. Demikian pula kesedihan yang berlarut-larut [sokavarjita] juga akan menyebabkan jiwa semakin menderita dan itu bertentangan dengan prinsip tapa yang sesungguhnya sebagaimana tertuang dalam Sarasamuccaya [306] “Na prahrsyati sammane nindito nanutapyate, na kruddhah parusanyaha tamahuh sadhulaksanam” yang artinya, adapun tingkah laku sang sadhu tidak sombong waktu dipuji, tidak kecil hati saat dicela”. 

Hadirin yang saya hormati dan banggakan,
Setelah mendengar penjelasan Bhagawan Agastya mengenai pentingnya pengendalian indria sebagai implementasi tapa, Dredhasyu kemudian melanjutkan pertanyaannya. Paduka Bhagawan, bagaimana dengan yajna sebagai jalan menuju kemuliaan hidup ?  Bhagawan Agastya kemudian memberikan penjelasan. Anakku Dredhasyu, yajna artinya kurban suci yang dilaksanakan dengan dasar bhakti dan  lascarya. Bhakti mensyaratkan adanya menyerahan diri secara total kepada yang Maha Kuasa. Bhakti merupakan perilaku tanpa harapan [lascarya]. Oleh karena itu, yajna yang baik senantiasa dilaksanakan dengan yasakirtti yang baik pula. Disamping pancayadnya [dewayajna, rsiyajna, pitrayajna, manusiayajna, dan bhutayajna] juga ada yajna berupa pemujaan kepada Sang Hyang Siwagni. Lebih lanjut Bhagawan Agastya menyatakan: “orang yang telah menguasai dengan sempurna yajna itu, dan mengetahui hakikat segala yang ada, akan memberi kebahagiaan padanya. Orang yang melaksanakan tapa, yajna, kirrti, kelak akan pulang ke surga dan di situ ia akan menikmati berbagai kesenangan dan kebahagiaan.dupan yang lalu

Hadirin yang berbahagia,
Dalam melaksanakan yajnya, manusia akan mempersembahkan berbagai hal yang dimilikinya. Namun demikian, yang perlu engkau camkan jangan pernah engkau melupakan menggunakan dupa dan bunga. Dupa memiliki fungsi agar pahala pemujaan dapat dirasakan terus, tanpa putus-putus. Lebih lanjut Bahagawan Agastya memberi ilustrasi: “ada orang kaya, keluarganya tidak kekurangan sesuatu apapun, sementara iapun menikmati kebahagiaan dengan penuh kesenangan. Tetapi Ia ditawan, dirampas, dituduh berbuat yang nggak-nggak, walaupun sesungguhnya ia tidak melakukan yang dituduhkannya. Orang yang demikian pada kehidupan yang lalu gemar memuja Bhatara yang menyebabkan para Bhatara sayang kepadanya. Namun karena pemujaannya dahulu tanpa dilengkapi dupa, maka usaha yang dilaksanakan, kehilangan makna dan esensi yajnya-nya”. Lebih lanjut Bhagawan Agastya menjelaskan bahwa: “orang yang berbudi baik, tidak akan menggunakan bunga yang tidak patut dipersembahkan dalam  yajna-nya, yaitu: 1] bunga yang berulat; 2] bunga yang gugur tanpa diguncang; 3] bunga yang berisi semut; 4] bunga yang layu; 5] bunga yang sudah lewat masa mekarnya; dan 6] bunga yang tumbuh di kuburan. Mengapa bunga yang dipersembahkan harus segar, wangi, dan indah ? agar orang yang mempersembahkannya dianugrahi kelahiran dan wajah yang cantik dan rupawan. Disamping menggunakan dupa dan bunga yajnya juga hendaknya dilengkapi dengan bija, berupa beras yang utuh [jika memungkinkan yang terpilih]. Penggunaan wija yang utuh dan sempurna akan memberikan peluang hidup lebih baik di masa yang akan datang.

Hadirin yang berbahagia,
Anakku Dredhasyu, kemuliaan hidup juga dapat dicapai melalui kirrti, yaitu perbuatan membangun fasilitas umum untuk kepentingan kemanusiaan. Membangun rumah sakit, membangun sekolah, membangun panti asuhan bagi fakir miskin merupakan tindakan dharma yang memiliki nilai investasi sosial dan spiritual menuju kemuliaan hidup. Menjadi orang tua asuh bagi sejumlah orang yang tidak mampu, menjadi relawan kemanusiaan, dan menjadi pembimbing bagi mereka yang memerlukan tuntunan hidup merupakan kirrti yang diajurkan. Tindakan  kirrti yang dilakukan ketika menjelang pemilihan kepala daerah bukan tidak boleh dilakukan, tetapi memiliki kemuliaan yang lebih rendah ketika dilakukan saat tidak memiliki niat dan maksud apa-apa. Kirrti juga mensyaratkan adalah dasar bhakti dan lancarya, sebagaimana saat kita melakukan yajna. Semoga bermanfaat.






















Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar