Skip to main content

Jalan Ketiga ?

Oleh:
Ida Bagus Gde Yudha Triguna,
Universitas Hindu Indonesia,
(Gatot Subroto, 14 November 2019).

Saya yakin anda pernah mendengar nama Anthony Giddens, dia seorang ilmuwan sosial yang menggagas dan memperkenalkan 'pilihan ketiga' atau 'jalan ketiga' (The Third Way) di antara Kapitalisme dan Sosialisme-antara Pemerintah dan Pasar Bebas. Dalam The Third Way, Giddens menyatakan bahwa masyarakat di penghujung abad 20 dicirikan oleh “manufactured uncertainty”, masa yang diliputi oleh ketidakpastian, yang disebabkan bukan oleh alam, tetapi oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya.

“Manufatured uncertainty” membawa akibat pada “high consequence risk” betapapun matangnya perencanaan manusia dan atau suatu Negara, ketika tiba-tiba terjadi  attack, maka manusia dan atau negara akan mengalami konskuensi yang amat jauh. Dunia saat seperti ini dimetafor sebagai “Juggernaut”– semua akan pasrah dan mungkin berdoa memohon keselamatan. “Juggernaut" adalah suatu keadaan yang tiba-tiba tidak terkendali, sehingga semua merasa tidak berdaya, semua terdiam hanya menunggu keajaiban untuk selamat. Ibarat sebuah truk yang mengangkut muatan penuh dan berat sedang berada di tengah-tengah jalan tanjakan tiba-tiba truk itu mati. Untuk melanjutkannya tidak bisa mulai dari tengah tanjakan, melainkan truk dengan muatannya harus dimulai dari bawah tanjakan atau sebagian besar muatan yang ada dalam truk itu diturunkan agar laju truk mencapai puncak tercapai. Dalam keadaan tiba-tiba truk dengan muatan berat itu mati, semua orang hanya bisa berdoa, berharap, dan malahan saling menyalahkan, tanpa melakukan tindakan penyelamatan. Juggernaut dapat dialami oleh keluarga, institusi, dan Negara yang dibangun dan dikelola tanpa perencanaan yang sistematis dan rasional.

Giddens mengkritik materialisme historis Karl Marx yang terlalu optimis bahwa infrastuktur membentuk superstruktur; bahwa kaum proletariat selalu ditindas oleh kaum borjuasi, padahal dalam perjalanan sejarahnya telah terjadi perbaikan hubungan-hubungan produksi antara kaum pekerja dengan pemilik modal, bahwa kaum buruh diberikan jaminan kesehatan, asuransi, dan diberikan kebebasan berkumpul melalui Serikat Buruh.  Giddens juga mengkritik Saint Simon sebagai penganut Industrial society, yang beranggapan bahwa modernisasi akan menghilangkan masyarakat tradisional. Kenyataannya, masih terdapat desa-desa yang tradisional yang hidup di antara gempuran modernitas, malahan memperkuat identitasnya sebagai masyarakat tradisional. Giddens tidak percaya pada sosiologi Parsonian yang dikelompokkan ke dalam structural-functionalism yang dianggap mapan, tanpa mau bersikap kritis terhadap persoalan yang terjadi.

Disamping pandangannya mengenai “Juggernaut"  Giddens juga memperkenalkan teori mengenai "Resultan Empat Gugus Institusi", yang terdiri dari 1) industrialism; 2) kapitalisme; 3) pengawasan dan; 4) pengawasan militer. Bahwa dalam masyarakat industri yang ditandai dengan indutri mesin  akan memunculkan kelompok kapitalis, yakni menekankan betapa penguasaan atas materi sebagai salah satu indikator kekuasaan. Dalam keadaan seperti itu, maka dibutuhkan pengawasan, termasuk pengawasan melalui kekerasan militer. Akhirnya isu dan pilar keempat yang disampaikan Giddens adalah industrialisme, sebuah aktivitas tercipta oleh kreativitas manusia.

"Resultan Empat Gugus Institusi" ini akan melahirkan efek beriringan, yaitu pada gugus institusi kapitalis, penguasaan harta bersifat pribadi sehingga melahirkan kelas (ekonomi, sosial, dan politik); sedangkan pada gugus pengawasan akan melahirkan poliarki (menurut Dahl) memiliki ciri-ciri di antaranya: a) kontrol atas keputusan pemerintah diberikat kepada pejabat terpilih sesuai konstitusinya; b) Pejabat dipilih melalui pemilu yang bebas, adil, dan berkala dan seterusnya. Gugus kekerasan militer akan melahirkan industrialisasi perang, dan akhirnya industialisasi akan melahirkan isu-isu mengenai transformasi alam atau lingkungan yang tercipta.

Empat Gugus Institusi dalam perkembangan selanjutnya gugus kelas dan kepemilikan pribadi melahirkan gerakkan kaum buruh (industri, petani); sementara itu poliarki atau pengawasan di bawah wewenang yang ada, memuculkan gerakkan kebebasan berbicara atau gerakkan demokrasi. Gugus industrialisasi perang kemudian melahirkan gerakkan perdamaian, dan gugus lingkungan yang tercipta akan menghasilkan gerakkan ekologi atau juga disebut kebudayaan counter. Jadi gerakan buruh, kebebasan berbicara, gerakkan perdamaian dan gerakkan ekologi lahir karena adanya pilar kapitalisme, poliarki, industry perang, dan lingkungan yang tercipta. Dan semua itu adalah buut yang dibuat oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya.

Giddens juga membuat pernyataan tentang time space distanciation, bahwa pada era ini manusia dapat mamakai waktu tanpa terikat ruang. Konsep ini digunakan untuk menjelaskan perbedaan aneka masyarakat (perbedaan antara masyarakat berburu dengan petani bukan karena tingkat “kompleksitasnya”, tetapi karena berdasarkan tinggi-rendah time-space distanciation. Dalam masyarakat kapitalis keterjangkauan ruang waktu mencapai tingkat paling tinggi, akibat teknologi penghitungan waktu, teknologi dalam bidang transfortasi dan komputer. Berdasarkan pada pandangannya itu, Giddens kemudian menekankan bahwa globalisasi adalah keterjangkauan ruang dan waktu. Globalisasi Tidak semata-mata perdagangan internasional, tetapi mencakup arti ekonomi, informasi, transfortasi, dan seluruh pola perilaku sehari-hari. Implikasinya, tidak ada satu kausalitas dan tidak ada satu penjelasan. Beberapa unsur berpotongan menghasilkan manufactured uncertainties (masa yang diliputi oleh ketidakpastian, yang disebabkan oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya) dan sekaligus ontological security (Kehidupan modern yang membawa kepastian-kepastian).
Dalam The Consequences of Modernity, Giddens menolak istilah post-modern atau postmodernity untuk menamai era akhir abad 20an. Giddens setuju pada pandangan post-modern yang menyatakan bahwa pendasaran (foundation) bagi pengetahuan kita tidak kokoh, bahwa tidak ada kemajuan yang inheren dalam sejarah, dan tidak ada isu-isu sama sekali baru. Pandangan post-modern akan lenyapnya subyek dianggap berlebihan, karena post-modern tidak mempertimbangkan kemampuan reflexive manusia dalam memahami, mengorganisir, dan mengubah hidupnya.

Pada tingkat makro, reflexivity bersentuhan dengan tradisi. Pada masa pra-modern tradisi menduduki tempat utama, satu-satunya acuan. Pada masyarakat sekarang, tradisi dipertanyakan, diragukan, dan mungkin dibuang. Sekalipun demikian, tradisi tidaklah hilang, melainkan disebut dengan post-tradisional-society, dengan cara membangun naratif-naratif dan kehidupan mereka tidak mengalami fragmentasi sebagaimana dibayangkan oleh pengagum post-modern.

Akhir abad 20 dilihat sebagai ketidakpastian yang mencekam sebagai “high-consequence risk”, tetapi di sisi lain Giddens juga percaya dengan “ontological security” yang tidak dinikmati manusia pada masa pra-modern. Giddens, sebagaimana penganut pos-modern beranggapan bahwa dunia saat ini bergulir entah kemana seperti truk besar yang melaju kencang tanpa kendali (juggernaut). Orang harus hidup dengan resiko. Pandangan Giddens tentang Sosialisme (Kiri) dan Kapitalisme (Kanan) tidak bersifat antagonis tajam (Ia memahami keprihatinan kaum kiri mengenai ketidaksamaan dan pentingnya peran Negara untuk mengatasi masalah ini. Tetapi Giddens tidak percaya bahwa perubahan ke arah yang lebih baik dapat dicapai dengan meninggalkan peran Negara. Svaha.








Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar