Skip to main content

Pikiran Orang Bali dan Kekerasan


Sumber Lukisan: Nyoman Gunarsa
Oleh:
Ida Bagus Gde Yudha Triguna,
Universitas Hindu Indonesia,
(Gatot Subroto, 8 November 2019).

Prolog
Dalam ranah budaya kekerasan merupakan satu bentuk respons dari tantangan terhadap alam yang ganas; dan dalam tataran psikis, kekerasan merupakan satu yang inherent pada manusia, bahkan merupakan satu dari sifat-sifat manusiawi. Seiring dengan kemajuan standar peradaban, kekerasan berupaya dihindari yang serta merta membuat saluran agresivitas yang lebih positif. Karenanya, kontrak sosial pun dibuat untuk menghindari berlakunya hukum homo homini lupus.

Dalam sejarah budaya Bali — sebagaimana di daerah lain di muka bumi ini — menyimpan memori kolektif yang berkaitan dengan kekerasan. Masyarakat Bali tidak akan pernah lupa dengan berbagai perang puputan yang pernah terjadi, di antaranya: puputan Badung, Margarana, Buleleng dsb. Demikian pula di era Indonesia kontemporer, variasi kekerasan di Bali yang dapat dicatat di antaranya: kematian puluhan ribu penduduk Bali yang berkaitan dengan peristiwa G/30/S/PKI 1965, kekerasan menjelang pemilu di Buleleng  di era pertenganan 1970-an (sebuah kabupaten hingga kini yang selalu dipandang rawan konflik, terutama menjelang dilaksanakannya peristiwa-peristiwa politik). Kerusuhan massa pada tahun 1999 yang bukan saja menghancurkan kota Denpasar, tetapi juga memporak porandakan ekonomi Bali; ditambah lagi aksi bom bunuh diri yang meledak di Bali hingga dua kali (2002 dan 2005). Ini belum termasuk pertikaian antar desa adat di Bali, penguasaan simbol-simbol keagamaan berupa Pura antarkelompok masyarakat di berbagai tempat; serta isu usang namun aktual: potensi konflik kasta. 

Dari ilustrasi sederhana di atas, serta untuk mensistematisasikan persoalan, model konflik di Bali dapat dipilah menjadi dua, yaitu yang bersifat eksternal, terutama berkaitan — entah langsung atau tidak — dengan hajatan politik nasional; internal, yaitu kecemburuan sosial yang terbentuk secara historis sehingga menimbulkan prasangka kolektif antarkelompok dalam masyarakat. Namun yang lebih menarik dari itu adalah lekatnya streotipe orang Bali yang kalem. Hal ini setidaknya terlihat dari reaksi orang Bali yang tidak menunjukan agresivitas yang mengarah pada upaya ‘balas dendam’ terhadap kejadian bom Bali I & II. Setidaknya, konflik laten sebagai reaksi bom yang menewaskan lebih 200 orang tidak muncul hingga kini. Karenanya, pariwisata Bali saat ini dinilai sudah mulai kembali tumbuh, walau disertai embel-embel belum merata hingga ke rakyat. Fakta tersebut melahirkan asumsi: terdapat dinamika internal dalam tubuh budaya bali yang bisa mengatasi potensi konflik di satu sisi dan di sisi lain kemampuan untuk menampilkan suasana tentram dan damai.
Naskah sederhana ini, merupakan satu upaya untuk mendeskripsikan dinamika internal dalam kebudayaan Bali sebagai disebut pada alinea di atas, selain itu sebisa mungkin juga merupakan tawaran diskusi bagaimana upaya-upaya orang Bali ke depan menghadapi agenda-agenda persoalan yang dimilikinya, baik itu internal maupun eksternal.

Filsafat Rwa Bhineda
Dalam rumusan yang sederhana rwa bhineda merupakan pertentangan abadi antara dua kekuatan, antara kebaikan dan kejahatan. Dua kekuatan ini selalu terdapat dalam diri manusia, yaitu pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Semacam oposisi biner antara Gunung-Laut (Segara-Gunung), Laki-laki-Perempun (Purusa-Predana), dan Sperma-Ovum (Kamabang-Kamapetak). Dalam pementasan seni pertunjukan konsep rwa bhineda terdapat pada calon arang. Secara singkat, sinopsis ceritera berawal dari bencana wabah penyakit di sebuah kerajaan yang disebut Kediri. Sang raja, Prabu Airlangga dengan berbagai upaya berupaya mencari sumber penyakit dan diketahuilah janda bernama Dirah sebagai penyebab malapetaka itu. Sang janda sangat dikenal karena kesaktiannya akan ilmu hitam. Singkatnya, di akhir ceritera sang janda bertarung dengan kekuatan yang disebut dengan kebaikan. Simbolisasi sang janda adalah Rangda, sedangkan kebaikan dilambangkan dengan Barong. Ceritera ini memang tidak berakhir happy ending. Tubuh Rangda dihujani tusukan keris oleh puluhan prajurit Prabu Airlangga, tetapi tidak ada setetes darahpun yang menetes. Dalam hujan tusukan keris itu Rangda mengibaskan kain putih yang digenggam, maka puluhan prajurit itupun menghujamkan kerisnya ke tubuhnya sendiri. Lagi-lagi tidak ada darah yang menetes. Pesan yang ingin disampaikan agaknya pertarungan antara Rangda dan Barong adalah pertarungan yang abadi, pertentangan antara kebaikan dan kejahatan yang de facto juga terjadi dalam kehidupan — rwa bhineda. Itulah sebabnya, walau Rangda disimbolkan secara moral sebagai kekuatan gelap dan jahat, tetapi ia mendapat penghormatan yang sama dengan Barong. Setiap odalan (upacara ulang tahun sebuah pura) tapel Rangda selalu ditempatkan sebagai kekuatan spiritual yang membebaskan. Bahkan, tidak seorang Bali pun secara sembarangan menyebut kekuatan gelap itu dengan Rangda (saja) melainkan dengan dengan sebutan ‘Ratu Ayu’, atau ‘Ida Bhatara’. Lalu, bagaimana fenomena ini bisa dijelaskan dengan kaca mata etno-filsafat ?

Pertama-tama, dari pemaparan ceritera Rangda ing Dirah bila dikaitkan dengan budaya Bali adalah pandangan orang Bali yang menerima hidup apa adanya. Kurang lebih analog dengan filsafat Ying-Yang di Cina. Kehidupan adalah pertentangan dari berbagai macam kekuatan, sebagaimana diyakini dalam pandangan panca maha bhuta yaitu pembentuk kehidupan adalah lima unsur kimiawi: tanah, air, api, udara dan gas. Penekanan satu unsur dalam memahami dunia, bisa dipastikan akan mereduksi makna kehidupan itu sendiri. Unsur positif maupun negatif, keduanya harus diperhitungan. “Orang yang mau berpikir positif melulu adalah orang yang mau enaknya saja. Kita juga harus memikirkan hal-hal negatif,” demikian spiritualis Adnad Khisnan berdharma Wacana di Bali pada saat tertentu. Orang Bali menerima pertentangan dalam kehidupan, karena kehidupan sendiri itu dinilai suci. Karenanya figur Dirah, walaupun dalam pentas seni pertunjukan secara moral ‘jahat’, sangat disucikan serta  ditunggu ‘kehadiran’nya dalam ritual-ritual penting (Bhs Bali: ledang nedunin mapaica pengaweng).

Konsekuensi filosofis — kalau boleh saya menggunakan istilah ini — terhadap fenomena itu, yaitu: absennya kebenaran tunggal dalam budaya Bali. Semuanya sangat tergantung pada perspektif. Pluralisme de facto bukan terminologi yang asing dalam kehidupan bermasyarakat di Bali, namun merupakan istilah yang terasa asing untuk dibicarakan secara formalitas. Karenanya, pura di Bali selalu welcome dengan orang non-Bali. Pemangku dengan senang hati memercikan tirta dan menyematkan bungga pada siapapun yang memang minta ingin keselamatan, tanpa ditanya terlebih dahulu identitas keagamannya. Absennya kebenaran tunggal mengandaikan bahwa kehidupan bagi masyarakat Bali berjalan secara diskontinyu, tanpa pola konstan. Karena beragamnya perpektif, potensi kekerasan pada masyarakat Bali bisa diandaikan dan ini tidak diingkari. Karenanya, diperlukan satu kekuatan tertentu — yang mengatasi beragam perspektif — bersifat simbolik agar kehidupan bisa terus berjalan. Berbarengan dengan unsur destruktif dalam dinamika internal budaya Bali, muncullah elemen visioner yang menyatukan berbagai distingsi primordial agar kehidupan terus berjalan. Fungsi elemen visioner ini berbanding terbalik dengan unsur destruktif budaya Bali, yaitu memberi visi yang menyatukan berbagai berbedaan perpektif: bahwa terdapat realitas di seberang semua penampakan atau dalam termonologi yang lebih teknis: elemen visioner berfungsi pada Kesatuan Primordial. Relasi antara elemen destruktif maupun visioner merupakan relasi intrik, saling mendahului. Begitu visi dalam kesatuan primordial terpenuhi, secara bersamaan elemen destruktif bekerja untuk membongkar kesatuan primordial tersebut, sehingga serat-serat budaya lama kembali direvitalisasi. Begitu seterusnya. 

Dalam sastra Bali terdapat ceritera dua bersaudara Cupak-Grantang. Cupak memiliki karakter ugal-ugalan, licik; sedangkan adiknya Grantang berpenampilan kalem, rasional. Cupak dengan berbagai cara yang licik selalu ingin menghabisi adiknya, tetapi Grantang selalu bisa berkelit karena sikapnya yang rasional dan rendah hati. Sebagaimana ceritera Rangda ing Dirah, ceritera ini tidak menafikkan satu karakter dengan lainnya. Baik Cupak maupun Grantang sama-sama masuk sorga. Cupak, dalam konteks kajian — sebut saja — etno filsafat merepresentasi elemen destruktif; sedangkan Grantang merupakan elemen visioner dalam dinamika budaya Bali. Contoh lain relasi hermenuitik terdapat dalam gamelan Bali yang sebagian besar mengunakan teknik ngotek (interlocking melody); juga dalam dunia kuliner, yaitu lawar, di dalamnya terdapat rasa: manis, pahit, asin, pedas dan rasa arak (alkholic) dicampur menjadi satu agar semua unsur itu (dalam Bhs Bali) jadi mekilit. Relasi lingkaran hermenuitik dua elemen, yaitu destruktif dan visioner, inilah yang bekerja dalam dinamika internal budaya Bali.   

Lalu, bagaimana dua elemen itu bekerja secara de facto ? Perbedaan perpektif yang melahirkan potensi kekerasan serta elemen visioner yang ’menyadarkan’ manusia akan pentingnya keberlangsungan kehidupan secara de facto bekerja pada ritual yang dilaksanakan secara reguler. Dalam ritual perbedaan strata sosial dihancurkan (setiap orang boleh bersikap aktif (baca: ngayah) atau pasif (jadi penonton), namun yang terpenting potensi-potensi destruktif dalam diri manusia dibenarkan. Karena memang begitulah hidup (bhs Bali: nak mulo keto; Bhs Inggris: that it is) penuh inkonsistensi — termasuk di dalamnya: kekerasan. 

Dalam perpektif inilah ritual-ritual yang berkaitan dengan kekerasan, seperti ngurek (menusuk diri dengan keris) berjalan di atas bara api, ritual saling menyakiti dengan mengunakan daun pandan yang berduri dan sebagainya bisa dipahami. Dalam ritual, agresi destruktif disalurkan sekaligus menajamkan visi kebersamaan. Semuanya untuk menjustifikasi realitas di seberang penampakan yang disimbolkan dalam bentuk dewa-dewa ataupun leluhur. Seni lalu menjadi media yang teramat penting dalam ritual di Bali. Ia merupakan justifikasi akan potensi kekerasan dalam tiap individu (bukan direduksi) sekaligus juga merupakan kesatuan primordial budaya Bali. Singkat kata, seni bagi masyarakat Bali merupakan wujud penerimaan akan diskontiyuitas kehidupan, atau dalam rumusan yang negatif seni bukan sekedar pelarian (katarsis — dalam pengertian Aristotelian) dari ruwetnya kehidupan. Seni bukanlah media atau saat manusia melupakan (lebih tepatnya lari) dari kenyataan, tetapi justru merupakan penerimaan secara penuh akan kenyataan. Ritual seni merupakan obat kuat bagi orang Bali dalam menjalani kehidupan. 

Seni dan Konflik Sosial
Bila diimplikasikan dalam kehidupan sosial konsep penerimaan kehidupan secara penuh terdapat dalam berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh institusi-institusi sosial. Dari seluruh kabupaten yang terdapat di Bali, semuanya memiliki agenda ’Pesta Kesenian’. Kab. Tabanan, misalnya, selain mengadakan pesta kesenian tingkat kabupten juga mengadakan kegitan seni bertaraf internasional, yaitu Kecak Massal dan Festival Tari Oleg Tambulilingan; juga Kab. Karangasem mengadakan kegiatan megibung massal. Dalam perpektif — sekali lagi — etno filsafat, kebijakan itu bukanlah medium pengalihan publik oleh pihak eksekutif pada isu-isu politik, tetapi justru merupakan medium pembelajaran publik bahwa seperti itulah dunia politik, penuh intrik, bagian dari kehidupan. Sehingga, bila terjadi isu-isu politik berkembang menjadi konflik yang manifes, maka masyarakat Bali mengekspresikannya pada level dunia empirik, bukan metafisik. Kerusuhan gagalnya Megawati jadi presiden 1999, misalnya, merupakan kerusuhan yang terkonsentrasi pada penghancuran fasilitas-fasilitas umum — terutama gedung pemerintahan, bukan pada penjarahan toko-toko ataupun pembunuhan besar-besaran. Sangat berbeda dengan kerusuhan yang terjadi di Jakarta, seperti perebutan kantor sekretariat PDI 1996, Peristiwa Mei 1998 dsb. yang membuat Komnas HAM sibuk untuk menghitung jumlah berapa nyawa melayang, berapa jumlah orang hilang. Demikian pula dengan peristiwa bom Bali 1 dan 2. Tidak ada reaksi berlebihan orang Bali untuk melakukan tindakan balasan, karena peristiwa itu menyangkut persoalan metafisik, yaitu kematian. Sementara orang Bali sendiri sangat menghormati kehidupan. 

Dengan demikian, dalam dinamika internal budaya Bali terdapat mekanisme pengelolaan konflik melalui ritual seni. De facto, kekuatan eksternal mempengruhi fluktuasi potensi konflik untuk disalurkan pada tataran manifes. Namun energi penyaluran itu diarahkan pada ritual seni: Semakin kuat tekanan eksternal semakin rumit ritual seni di Bali dan semakin sensitif orang Bali terhadap idiom-idiom keagamaannya. Svaha.
          

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar