Skip to main content

Misteri Masa Depan !


Oleh:
Ida Bagus Gde Yudha Triguna,
Universitas Hindu Indonesia,
(Gatot Subroto, 19 Januari 2019).

Perubahan yang Abadi.
Era revolusi 4.0 menempatkan pentingnya komunikasi melalui teknologi informasi. Hubungan sosial ditentukan oleh kemampuan seseorang menguasai pengetahuan dan teknolog serta kreativitas dalam memanfaatkan teknologi yang ada sebagai dinyatakan Schwab (2016) berikut: “We are at the beginning of a revolution that is fundamentally changing the way we live, work, and relate to one another. In its scale, scope and complexity, what I consider to be the fourth industrial revolution is unlike anything humankind has experienced before”.

Pink (2006) dalam The Conceptual of Age berkaitan dengan Affluenence, Technology dan Globalization (ATG) menyatakan bahwa bahwa ada empat periodeisasi, yaitu: 1) pada abad ke 18an, disebutnya dengan masa pertanian (Agriculture Age). Kedudukan petani dan pemilik sawah menjadi penting dalam menentukan kemakmuran seseorang. Mereka yang memiliki sawah dan teknologi pertanian, berpeluang lebih besar untuk mencapai kemakmuran. 2) Periode berikutnya di abad 19an, era pertanian berubah menjadi era industri (Indrustial Age). Kedudukan pemilik industri dengan para pekerja pabrik membentuk the rolling class, kelas yang saling berhadapan, antara pemilik dan penguasa industri dengan yang hanya punya tenaga-buruh. Lapangan pekerjaan didominasi pekerja pabrik. 3) pada fase ini, abad 20an disebut Information Age yang ditandai dengan berkembangnya industri komunikasi. Para pekerja lebih didominasi oleh pekerja pengetahuan, yang lebih memberi tempat sekaligus kesehteraan kepada mereka yang bekerja dengan pengetahuan yang baik, dan periode terakhir atau ke 4) di abad ke 21 disebut Pink dengan  Conceptual Age. Pada periode ini  dibutuhkan tenaga kerja yang hamdal dan kreatif. Tenaga kerja hamdal ditandai dengan kemampuan berfikir kreatif dan berfikir merdeka. Jika kita percaya pada 'ramalan' Daniel H. Pink tersebut, maka Sumber Daya Manusia harus dididik dan diajarkan untuk menjadi manusia kreatif-inovatif, diajarkan mampu memecahkan masalah yang dihadapi, dan mampu berbicara dan menulis dengan baik.

Jennefer Rita Nichols.
Jennefer Rita Nichols adalah seorang Pendidikan pada primary school for grade 5/6 dan Peneliti Pendidikan. Memperoleh beberapa penghargaan di Mc.Gill University, termasuk Art Education  Award tahun 2009. Berlandaskan pada penelitian Tony Wagner dari Harvard University, Nichols menemukan 7 keterampilan yang dibutuhkan pada abad 21 dengan cara mewawancarai ratusan CEO di bidang bisnis, lembaga nirlaba, dan institusi pendidikan kemudian ia mengembangkan pendapat mengenai pentingnya pendidikan masa depan untuk menjadi ramalan Daniel H Pink maupun pandangan Schwab (2016), yaitu: 7 Skills Students Will Always Need sebagai berikut.

Pertama, pendidikan harus mampu melatih keterampilan siswa dalam melihat  masalah dari sudut berbeda dan merumuskan solusi mereka sendiri. Pendidikan juga mampu melatih siswa berpikir dan bertindak cepat. Akhirnya, pendidikan mampu melatih siswa memberi banyak solusi, karena hal ini dapat menjadi pengalaman kreatif dan pribadi. Ini disebutnya dengan pendidikan mampu membangun #Critical Thinking and Problem Solving#.

Kedua, pendidikan harus mampu menjadikan anak didik belajar memimpin dirinya sendiri dan orang lain, sebab tidak semua orang terlahir dengan potensi dan kemampuan sebagai pemimpin. Pendidikan harus memberi keterampilan agar siswa mampu mengambil peran berbeda dalam kelompok tertentu. Terkadang seseorang bisa menjadi manajer dan pada kesempatan berbeda mereka bisa menjadi ‘organizer’, sehingga diperlukan cara yang lebih kolaboratif daripada hanya memecah sebuah kegiatan dan kemudian menggabungkannya kembali. Cara kedua ini disebut Nichols dengan istilah #Collaboartion Across Network and Leading by Influence Preparation# [Not every person is born a natural leader].

Ketiga, pendidikan harus memberi ruang agar siswa terbiasa dengan perubahan, dan ajarkan mereka merasa nyaman dengan perubahan, serta bersedia menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitar mereka. Ciptakan suasana dinamis, buat variasi dan strategi pengajaran yang digunakan, dan elemen wajib untuk digabungkan atau membiarkan mereka beralih kerja dan menyelesaikan tugas berdasarkan persiapan orang lain. [Mungkin] mereka menggerutu pada awalnya, tapi keterampilan akan membantu mereka dengan baik. Faktor ketiga ini oleh Nichols disebut dengan #Agility and Adaptability Preparation#.

Keempat, pendidkan harus memungkinkan siswa termotivasi bisa mengambil inisiatif dan berkontribusi pada lingkungannya. Siswa bisa jadi menjadi sangat kreatif dan tertarik membentuk pengalaman mereka di kelas. Biarkan mereka tahu bahwa anda bersedia mendengarkan gagasan mereka tentang memperbaiki kelas atau sekolah.  Bantu mereka marealisasikan gagasan mereka [bisa jadi mereka gagal]. Kegagalan menjadi pelajaran berharga, dan siswa tidak boleh takut mencoba karena mereka takut gagal. Bagian keempat dari pandangan Nichols disebut dengan #Initiative and Entrepreneurship Preparation#.

Kelima, pendidikan harus mampu mengajarkan siswa berbicara dengan percaya diri dan jelas [ucapan, kecepatan,volume, dan kontak mata tidak datang secara alami, tetapi dengan latihan]. Dalam mengajarkan komunikasi tertulis, perlu ditekankan akan peraturan sambil mengajarkan siswa bagaimana menggunakan teknologi yang tersedia. Pengetahuan mengenai tulisan formal dan informal sangat penting dikenalkan kepada siswa untuk belajar dan memulai melamar. Aspek kelima ini disebut Nichols sebagai #Effective Oral and Written Comunication#.

Keenam, pendikan harus mampu mengajarkan pemajuan teknologi informasi dan memungkinkan siswa mengakses berbagai informasi, tetapi mengakses informasi yang baik itu sulit [Internet sahabat terbaik atau musuh terburuk]. Siswa diajarkan bagaimana menyaring informasi dan menemukan yang dibutuhkan [diajarkan mempelajari perbedaan antara informasi faktual dan pendapat yang terdengar faktual]. Aspek keenam ini disebut Nichols dengan #Accessing and Analyzing Information#.

Ketujuh, pendidikan harus mampu menjadikan siswa memiliki naluri keingintahuan dan imaginasi yang demikian luas, kadang praktis dan tidak praktis. Pengajar terus mendorong mereka untuk mengembangkan keterampilan ini, dan mengajari mereka cara menerapkannya secara kreatif dan sengaja. Pendidik harus berhati-hati memelihara dan mengembangkan imajinasi mereka. Kita dapat mengajari mereka hal-hal yang sesuai, tanpa membuat mereka merasa gagasannya salah atau buruk. Aspek ketujuh ini disebut Nichols dengan #Curiosity and Imagination Preparation#.

Membangun dan Menguatkan Kreativitas.
Jika kita mau memenangkan masa depan, maka siapkan diri kita menghadapi dinamika global, sadari bahwa perubahan senantiasa menghantui dan malahan dapat melibas kita, oleh karena itu kita harus terbiasa dengan perubahan, dan merasa nyaman dengan perubahan, serta bersedia menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitar kita. Siapkan siswa termasuk diri sendiri keterampilan menulis, berbicara, dan tersenyum. #Mari Rebut Masa Depan, dan Jangan Pernah Merasa Tua dan Tidak Bisa#. Vidya Dhanam Sarva Dana Pradhanam. Svaha.









Newest Post
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar